Selasa, 19 Februari 2013

Sistem Telekomunikasi (Signaling) (Semester 2)


SIGNALING

Peengertian Signaling

Signaling adalah proses pertukaran sinyal antar komponen jaringan telekomunikasi di dalam rangka pembentukan koneksi, maintenance koneksi, dan pemutusan koneksi

Persyaratan signaling

- Dari sudut pandang pelanggan
Transfer informasi harus andal Contoh: pelanggan yang ditujulah yang ringing Call set up yang cepat Tidak ada noise akibat adanya signalling
- Pengaruh signalling system terutama pada waktu set-up Waktu tunggu mendapat dial tone setelah off-hook Waktu mendial (pulse dial atau DTMF) Waktu untuk mentransfer informasi digit antar sentral dan pembentukan koneksi

Klasifikasi Signaling

            Signaling  dapat dibagi ke dalam berbagai jenis bergantung sudut pandang penggolongan/pengklasifikasian. Secara skematik pengklasifikasian seperti berikut ini :

                                            

ž  Signaling Berdasarkan Pemakaian Kanal

  •   CAS (Channel Associated Signaling) = pensinyalan kanal yang bersesuaian
ΓΌ  Tiap kanal voice memiliki 1 kanal signaling masing-masing secara exclusive (associated), dengan menggunakan kanal fisik yg sama tetapi terpisah secara logika/timing berbeda

Channel Associated Signaling

                                


                                        

Signaling dilakukan menggunakan kanal yang  juga digunakan untuk mentransfer informasi

                                                               

Channel Associated Signaling pada sistem 3 kawat (analog)

                                          

Channel Associated Signaling sistem 4 kawat (analog)


                                          

Pada sistem 2 kawat, line signaling menggunakan speech wires, maka :

·         Untuk signaling yang terjadi saat percakapan berlangsung (misal sinyal metering), frekuensi signaling harus menggunakan out-band (frekuensi signal di luar pita frekuensi 300-3400 Hz).agar tidak saling mengganggu (interferensi).

·         Sedangkan untuk line signal yang terjadi di luar kondisi bicara (conversation, frekuensi line signal dapat menggunakan in-band (frekuensi line signal dalam pita frekuensi suara).

·         Sedangkan register signal selalu dilakukan di luar waktu percakapan (sebelum  percakapan)

Channel Associated Signaling sistem digital

                                        


  •   CCS (Common Channel Signaling) = pensinyalan kanal bersama
Sejumlah (kecil) kanal signaling digunakan oleh banyak kanal voice secara bersama (common). Umumnya secara fisik terpisah

                               

Terminologi dalam Jaringan SS7

  Jaringan SS7 dibentuk oleh elemen-elemen berupa titik-titik pensinyalan (node) disebut Signalling Point (SP) dan jalur-jalur transmisi Signalling Link.

Signaling Point (SP)

  Adalah setiap titik dalam jaringan yang mempunyai kemampuan untuk mengontrol/memproses signalling message.
  Contoh Signalling Point dalam jaringan :
1.      Sentral (Switching Center)
2.      Pusat Operasi & Pemeliharaan (OMC)
3.      Service Control Point (SCP)
4.      Signalling Transfer Point (STP)

Signaling End Point (SEP)

  Merupakan Signalling Point yang hanya mampu memproses signalling message yang secara langsung ditujukan kepadanya, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk mentransfer message SS7 yang ditujukan ke SP lain.

  Catatan: Dalam beberapa pembahasan, istilah SEP sering ditulis SP, sehingga dalam jaringan hanya ada dua istilah titik pensinyalan yaitu SP dan STP.

Signalling Transfer Point (STP)

  Merupakan Signalling Point yang mempunyai kemampuan untuk mentransfer signalling message ke Signalling Point lain.

Signalling Transfer End Point (STEP)

  Merupakan Signalling Point yang dapat melakukan fungsi STP & SEP (combined).
Konfigurasi SP dengan STP

                               

Istilah Link

  Signaling Link
  Adalah media transmisi untuk membawa signalling message antara dua Signalling Point.

  Link set
  Adalah sejumlah signalling link yang menghubungkan dua buah signalling point secara langsung

  Link group
  Adalah sekumpulan link dalam suatu link set yang mempunyai  karakteristik sama/identik.

Rute Signalling

                                 

Keterangan Rute Signaling

  Originating Point
  Adalah Signalling Point atau titik asal pengirim signalling message.

  Destination Point
  Adalah Signalling Point atau titik tujuan akhir dari signalling message.

  Route signalling
  Adalah lintasan message yang telah ditentukan sebelumnya.
  Lintasan tersebut terdiri dari STP dan link signalling yang berada di antara Originating Point (OP) dan Destination Point (DP).

Mode Signalling
  Ditinjau dari konfigurasi antara kanal data/speech dan link pensinyalan, terdapat dua mode signalling, yaitu Associated dan Non Associated.  Mode Non Associated dapat berupa Quasi Associated atau Fully Non Associated.

Mode Associated
  Dalam mode ini signalling message ditransfer melalui signalling link yang lintasannya sama dengan lintasan group sirkit bicara.


Mode Non Associated
  Dalam mode ini signalling message antara dua SP ditransfer melalui satu STP atau lebih, sehingga signalling message menempuh lintasan yang berbeda dengan group sirkit voice/data. Terdapat dua macam mode Non Associated, yaitu:

Quasi Associated
  Dalam mode ini, lintasan message  telah ditentukan sebelumnya.

                              

Fully Non Associated
  Dalam mode ini, message ditransfer melalui lintasan manapun yang tersedia dalam network dan tidak dapat ditentukan sebelumnya

                                    

  Dalam praktek, karena feature MTP dari SS7 tidak mempunyai kemampuan untuk menyusun kembali urutan message yang diterima dan masalah-masalah lain seperti dynamic routing dsb, maka mode Fully Non Associated tidak dapat diterapkan, sehingga yang lazim digunakan adalah Mode Associated dan Quasi Associated.

Contoh Konfigurasi Kombinasi

                      

                         

Information Plane & Control Plane

  Dalam jaringan SS7, signalling message melakukan fungsi call management (call setup, supevision, termination) dan fungsi network management

  Signalling message tsb. dikirim dalam bentuk blok-blok pendek atau paket dengan teknologi message switching

  Dalam fungsi call setup, jika hubungan telah terbentuk, informasi speech/data dikirim dari user ke user (end-to-end), selanjutnya signalling message dapat digunakan oleh user lain.

  Jika user telah selesai melakukan komunikasi, maka signalling message melakukan termination.

  Dalam proses transfer message di atas melibatkan elemen-elemen signalling yaitu signalling link, SP dan STP

  Sehingga dalam jaringan terdapat dua bidang jaringan, yakni bidang yang dibentuk oleh elemen-elemen jaringan speech/data dengan teknologi circuit swittch (disebut Information Plane) dan bidang yang dibentuk oleh elemen-elemen jaringan signalling dengan teknologi message switch (disebut Control Plane).
Control Plane

                               

Information Plane

                                    

Hirarki Signalling Point

  SP dan STP dalam Signalling Network akan membentuk jaringan secara hierarkis dimana SP merupakan level rendah dibanding STP
  Untuk jaringan yang lebih luas/kompleks, STP dapat terdiri dari lebih dari satu level. Jaringan yang hanya mempunyai satu level STP
  Parameter yang mempengaruhi disain jaringan dan jumlah level serta merupakan ukuran kemampuan network dalam mengatasi gangguan STP adalah :

Parameter Desain Jaringan

  1. Kapasitas STP
  jumlah signalling link suatu STP
  signalling message transfer time, dan
  kapasitas transmisi (bit rate)

  1. Performansi Network
  Jumlah SP
  Signalling delay

3. Availability & Reliability(ketersediaan & kehandalan)

  Ditinjau dari segi performansi network, struktur dengan level tunggal akan lebih baik dibanding struktur lebih dari lebih dari satu level karena mempunyai signalling delay lebih singkat, namun dari segi availability & reliability justru lebih jelek karena keterbatasan memilih jalur alternatif.
Untuk struktur level tunggal
  Tiap SP dihubungkan dengan sekurang-kurangnya dua STP.
  Semua STP dihubungkan secara full mesh

                             


Untuk struktur dua level
  Tiap SP dihubungkan dengan sekurang-kurangnya dua STP level  rendah (lower level).
  Setiap STP level rendah dihubungkan sekurang-kurangnya dengan dua STP level tinggi.
  Semua STP level tinggi dihubungkan secara full mesh

                       

Struktur Network Signalling Sistem AT&T

                                        


Signalling Sistem AT&T
Link
Interkoneksi
Penggunaan/Fungsi
A
(Access)
SP-STP
Akses dari Switching Office ke Network Sig-nalling
B
(Bridge)
STP-STP selevel
Penghubung antara dua STP pada wilayah yang berbeda
C
(Cross)
STP-STP pasangan
Sebagai rute alternatif jika link B gagal
D
STP-STP lain level
Ruting ke level lebih rendah / lebih tinggi
E
SP-STP
Rute langsung SP Γ– STP non-home
F
SP-SP
Akses langsung antar Switching Office

Pola Penomoran SPC Γ¨(Signalling Point Code)

  Dalam jaringan SS7, tiap titik (SP) perlu diberi identitas atau penomoran yang disebut Signalling Point Code (SPC). Dalam signalling SS7 identitas sentral asal (pengirim) disebut Originating Point Code (OPC) dan identitas sentral tujuan disebut Destination Point Code (DPC). Informasi ini dalam frame signalling message ditempatkan pada field SIF (Signalling Information Field).

Kriteria Penomoran

  Mudah dalam pemakaian.
  Untuk tujuan ini penomoran menggunakan kode yang sudah dikenal  secara luas/umum, yaitu kode desimal bukannya biner atau kode lain.
  Sistematis
  Dalam arti, berhubungan dengan kode area dan Office Code
  Fleksibel
  Artinya mudah menyesuaikan dalam perluasan di masa akan datang tanpa mengubah pola / kerangka penomoran secara fundamental.

Standar ITU-T

  Panjang Signaling Point Code (SPC) : 14 bit (dalam desimal = 00000 – 16384 Γ  5 digit).
  Network Indicator (NI) : 2 bit.
  Yaitu informasi dalam message SS7 (dalam field SSF) yang menunjukkan ruang lingkup jaringan, dialokasikan sbb :
  00 (desimal = 0) : Sentral Internasional
  01 (desimal = 1) : cadangan untuk internasional
  10 (desimal = 2) : Sentral Nasional
  11 (desimal = 3) : cadangan untuk nasional

Pola Penomoran (SPC) di Indonesia

  Dalam jaringan PSTN/ISDN dan IN, yang merupakan SP dan perlu diberi kode penomoran adalah :
  PSTN/ISDN
  Sentral Lokal (LE) Sentral Tandem (LT) IN
  Sentral Toll (TE) Service Control Point (SCP)
  Service Switching Point (SSP)

Konsep Layering (Lapisan) SS7

  Jaringan CCS7 dirancang untuk mampu mengontrol transfer informasi suara, data maupun gambar. Aplikasi yang dapat didukung CCS7 antara lain :
  PSTN
  ISDN
  IN
  PCN (Personal Communication Network)

Arsitektur SS6 (C6)
                                                

Signaling System 7 (SS7)

merupakan sebuah protocol signaling yang kanal/channel signalingnya terpaisah antara satu dengan yang laing yang berfungsi untuk membangun komunikasi. SS7 juga merupakan protocol komunikasi yang menyediakan signal dan mengontrol berbagai macam kemampuan dan pelayanan jaringan. SS7 juga menyediakan berbagai protol level yang connection oriented dan connectionless pada jaringan kabel dan jaringan bergerak. SS7 meliputi beberapa perangkat yagn terhubung yakni switch, database, dan routing node. Setiap perangkat terhubung dan memiliki fungsi yagn spesifik. Routing node adalah komponen utama dari SS7 dan disebut Signal Transfer Protocol (STP). STP terhubung dengan Service Switch Point (SSP) yang dilengkapi dengan SS7 logic control.

                                                

Arsitektur Jaringan SS7


                                            

Elemen SS7
Setiap elemen punya tugas spesifik dalam SS7.

Signal Transfer Protocol (STP) berfungsi sebagai pengatur pesan antar elemen pada jaringan.

Service Switch Point (SSP) memiliki perangakat control logic yang berfungsi mengirim dan menerima pesan atar node yang ada dalam jaringan.

Service Control Point (SCP) merupakan sebuah database. Memiliki fungsi untuk pelayanan dan juga pengaturan jaringan.

Service Node (SN) yang mengandung fungsi dari SCP yang terdapat fungsi tambahan seperti interkasi suara maupun pengaturan suara. SN tidak didesain untuk database dengan kapasitas besar.

SS7 melibatkan dua tipe signaling yakni connection oriented dan connectionless. Connection oriented mengacu pada ketersediaan layanan switch-to switch untuk layanan suara dan data. Sedangkan contoh coneectionless adalah kebutuhan pelayanan switch-to-database atau database-to-database pada Home Location Register (HLR) ke Visitor Location Register (VLR). Pada komunikasi bergerak terdapat 3 elemen penting dalam jaringannya yakni:

Mobile Switching Center (MSC) adalah sebuah switch telekomunikasi dalam jaringan komunikasi bergerak yang menyediakan pengaturan panggilan dan pemrosesan dan menghubungkan dengan Public Switch Telephone (fixed) Network (PSTN).


Home Location Register (HLR) merupakan sebuah penyimpanan data tentang pelanggan yang sedang melakukan panggilan. Mengandung informasi tentang user, diantaranya profil user, status, dan ketersediaan jaringan.

Visitor Location Register (VLR) yakni sebuah database yang menyimpan informasi user ketika berada jauh dari lokasi home service.

                              

Sistem A merupakan home system dari pengguna. Sedangkan pengguna sedang roaming di sistem B yang merupakan visited system.

Langkah pertama: Mendeteksi user yang potensial

Serving system (B) medeteksi user yang potensial. Saat sudah terhubung dengan mobile user, kemudian sistem mencari dalam databsenya apakah user ini ada dalam home sistem atau merupakan sebuah visitor. Ketika sudah ditentukan bahwa user merupakan visitor maka kemudian dicari dimana alamat home sistem dari user ini untuk selanjutnya dilakukan routing yang tepat ke home sistem dari user.


Langkah kedua : Pertukaran informasi user yang sesuai

VLR di sistem yang melayani user menghubungi HLR dari home sistem user. Komunikasi antara VLR di visitor sistem dan HLR di home sistem diatur dengan protocol SS7. Dalam GSM, SS7 memiliki sebuah prosedur Global Title Translation (GTT) untuk mencari informasi user yang sesuai pada HLR. MSC mengirim sebuah query sebagai point code. Fungsi STP pada SS7 dilakukan oleh GTT dengan menterjemahkan kembali alamat menjadi alamat actual pada HLR di home sistem (A). kemudian HLR merespon dengan mengirim query dengan mengirim pesan ke alamat awal point code dari sistem B (atau dikirim ke VLR).


Langkah ketiga : Pengaturan panggilan
Penempatan panggilan Saat ada request VLR menentukan apakah panggilan dapat dilakukan atau tidak. Saat bias dilakukan makan dilakukanlah hubungan dengan user yang dituju yang sesuai.

Penerimaan panggilan

Saat ada panggilan, dilakukan pengecekan apakah pemanggil ada dalam home sistem atau tidak. Jika sedang roaming (bukan ada di home sistem) maka VLR akan mencari home sistem pemanggil. HLR menggunakan SS7 untuk meminta instruksi dari VLR. Kemudian VLR menyediakan instruksi ini ke HLR agar diijinkan melakukan pengalihan panggilan ke penyedia layanan tempat dia berada atau serving switch sehingga seola-olah dia berada dalam home network.


                               



Signaling adalah semua pensinyalan yang dibutuhkan dalam melakukan panggilan dijaringan telekomunikasi. Arah signaling terdiri dari arah forward dan arah reverse. Jika panggilan berasal dari A menuju B, maka forward signaling mengalir dari telepon A menuju sentral telepon B tempat B berada. Sedangkan reverse signal adalah sebaliknya.
Pembawa signaling terdiri dari :
  • Physical circuit, yaitu suatu sirkit dimana tidak ada transformasi frekuensi percakapan pada sinyal yang melewatinya.
  • Nonphysical circuit, yaitu suatu sirkit dimana terdapat transformasi frekuensi percakapan ke frekuensi yang lebih tinggi (FDM) atau kedalam bentuk digital (TDM).
  • Signaling networks, yaitu jaringan khusus pembawa informasi signaling.
Tipe signaling terdiri dari :
  • Sinyal DC, yaitu sinyal direct current contoh untuk on-off hook.
  • Sinyal AC, yaitu sinyal arus bolak-balik contohnya sinyal dering.
  • Tone, sinyal berfrekuensi tertentu baik didalam frekuensi speech (inband signaling) maupun diluar frekuensi speech (outband signaling).
  • MFC (Multi Frequency Coding), yaitu signaling dengan menggunakan kombinasi beberapa frekuensi contoh DTMF.
  • Digital, yaitu signaling dengan menggunakan bit-bit digital.
Signaling pada telepon analog adalah sinyal-sinyal yang terdengar pada saat melakukan panggilan telepon selain sinyal suara.
Signaling pada telepon terbagi atas :


1. Signaling Supervisory yaitu signaling agar sentral telepon mengetahui keadaan telepon (aktif atau tidak). Sinyalnya adalah sinyal on/off hook.


2. Signaling Adressing yaitu signaling untuk pengalamatan telepon yang dipanggil. Sinyalnya adalah sinyal pulsa ataupun DTMF.


3. Signaling Call Progress yaitu signal yang terdengar saat proses pemanggil sedang berlangsung.

Arsitektur SS7
                                   

MTP Level 1 (Signalling Data Linkfunction)
  fisik Γ            
 berupa kanal data dua arah (bidirectional) yang beroperasi secara full duplex. Realisasinya misal berupa : digital switch block, multiplexer dijital dsb).
  elektrik Γ kecepatan data : 64 Kbps (untuk kedua arah sama). Dapat menggunakan time slot manapun (pada sistem PCM 30), kecuali time slot 0 (untuk sinkronisasi)
  fungsional Γ  sebagai interfaceuntuk menyalurkan data melalui physical connection (link transmisi) antara dua Signalling Point.
  Catatan : pada lingkungan transmisi analog, dimungkinkan (misal aplikasi modem) dengan  kecepatan ³4,8 Kbps.

MTP Level 2 (Signalling Link function)
  Informasi pensinyalan yang akan dikirim merupakan intra layer primitive dalam komunikasi komputer. Informasi ini dibagi dalam beberapa unit sinyal dengan panjang bervariasi. Pada SS7 suatu unit pesan (message) yang dikirim (ditransfer) melalui signaling data link disebut Signal Unit (SU)
  Terdapat 3 jenis/tipe SU yaitu MSU, FISU dan LSSU :

  •   MSU (Message Signal Unit)
 Merupakan SU yang membawa pesan/informasi pensinyalan dari User Part (Level 4), pesan tersebut ditempatkan pada field SIF
  CK : Check bit            FIB : Forward Indicator Bit  
  SIF : Signaling Information Field       FSN : Forward Serial Number
  SIO : Service Information Octet        BIB : Backward Indicator Bit
  LI        : Length Indicator       BSN : Backward Serial Number

              

  •    FISU (Fill In Signal Unit)
Merupakan SU yang yang dikirim apabila tidak ada MSU (dari level 4) atau LSSU (dari level 3) yang dikirim, sehingga FISU ini disebut juga filler (pengisi kekosongan). Berfungsi menjaga hubungan antara dua SP untuk mengawasi terus menerus kondisi link (fungsi supervisory).

                          

  •    LSSU (Link Status Signal Unit)
Merupakan SU yang digunakan untuk mengindikasikan status link ke remote end signaling link, baik indikasi normal, out-of-allignment, out-of-service dll.
Sinyal ini dikirim baik pada saat sistem pertama kali dioperasikan (inisiasi) maupun saat terjadi gangguan dan proses perbaikan (recovery). Informasi status indikasi ini dibawa dalam field SF (Status Field)

                                

ž  Signaling Berdasarkan Fungsi

  •  Line signal  /supervisory signal (sinyal pengawasan) adalah sinyal-sinyal yang berfungsi untuk memonitor (kondisi/status) & mengontrol line/saluran 
ΓΌ  Contoh fungsi monitor : idle, blocking dsb 
ΓΌ  Contoh fungsi kontrol :  clear forward, force release, seizure dsb 
Register signal  adalah sinyal-sinyal yang berfungsi membawa informasi tentang nomor telepon tujuan/asal, kelas/kategori pemanggil, kondisi bebas/sibuknya yang dipanggil dan sinyal-sinyal pengontrol sinyal forward.
ž  Signaling berdasarkan Metode Penyaluran

  •   Link-by-link. 
            Pengiriman suatu blok sinyal (lengkap) dari sentral asal dilakukan melalui satu atau beberapa sentral transit secara estafet (link-by-link) hingga sentral tujuan.

                            

  •  End-to-end 
            Sentral asal mengirim hanya sebagian informasi (yang diperlukan untuk ruting) ke setiap sentral transit yang dilaluinya. Seteleh sentral asal terhubung ke sentral tujuan, barulah Informasi lengkap (address tujuan) dikirimkan.

                             

  •   Enbloc. 
            Sama dengan mode  link-by-link,  yaitu sinyal lengkap dikirim secara estafet. Bedanya, terminologi enbloc hanya digunakan pada CCS (CCS No.7), sedangkan pada CAS (R2) biasa menggunakan terminologi link-by-link

  •    Overlap. 
            Mode penyaluran seperti  link-by-link  dimana informasi sinyal yang dikirim tidak secara sekaligus (lengkap) melainkan bertahap (sebagian-sebagian).

                          

                                       

Klasifikasi pensinyalan pada saluran pelanggan

                        

ž  Terdapat beberapa proses/prosedur pensinyalan yang harus dilalui oleh seorang pelanggan, atau disebut call setup. Berikut ilustrasinya :

                          

                                  

ž  Pada proses signaling terdapat fase dialing, yaitu menekan nomor tujuan. Terdapat dua metode dialing, yaitu :

            A. Decadic Pulse 
                                    

Buka/tutup kontak mekanik nsi, nsr, nsa dikontrol oleh token yang berputar saat roda pilih dilepas (berputar, kembali ke posisi normal)
                                 

B. DTMF

                                   

ž  Pensinyalan antar sentral


ž  Pengiriman Sinyal
            Dalam pengiriman sinyal melalui media transmisi, sinyal analog mudah  terkena gangguan/noise, sehingga di sisi penerima sinyal tersebut terdegradasi. Sementara untuk sinyal digital, selama gangguan tidak melebih batasan yang diterima, sinyal masih diterima/dikenali dalam kualitas yang sama dengan pengiriman. Dengan alasan ini, keluar ide pemakaian bersama sinyal analog dan digital, yaitu selama diuser berbentuk analog dan selama di media transmisi berbentuk digital. Teknik/metode pengubahan sinyal analog menjadi sinyal digital ini disebut PCM (Pulse Code Modulation).
PCM (Pulse Code Modulation)
  • Merupakan metode umum untuk mengubah sinyal analog menjadi sinyal digital
  • Dalam sistem digital, sinyal analog yang dikirimkan cukup dengan sampel-sampelnya saja
  • Sinyal suara atau gambar yang masih berupa sinyal listrik analog diubah menjadi sinyal listrik digital melalui 4 tahap utama, yaitu :
  •  
1.  Sampling
2.  Quantisasi
3.  Pengkodean
4.  Multiplexing

                                          

Sampling
ž  Untuk mengirimkan informasi dalam suatu sinyal, tidak perlu seluruh sinyal ditransmisikan, cukp diambil sampelnya saja
ž  Sampling : proses pengambilan sample atau contoh besaran sinyal analog pada titik tertentu secara teratur dan berurutan.
Frekuensi sampling harus lebih besar dari 2 x frekuensi yang disampling (sekurang-kurangnya memperoleh puncak dan lembah) [teorema Nyqust]
fs    =  Frekuensi sampling
fi     =  Frekuensi informasi/sumber (yang disampling)
CCITT : fs  = 8000 Hz
            fi   = 300 – 3400 Hz (Sinyal Bicara)
            Artinya sinyal telepon disampling 8000 kali per detik
ž  Hasil penyamplingan berupa PAM (Pulse Amplitude Modulation)


ž  Dalam sampling yang dipentingkan  adalah periode sampling bukan lebar pulsa sampling.
ž  Menurut teorema nyquist bila frekuensi sampling lebih kecil dari frekuensi informasi/sumber maka akan terjadi penumpukan frekuensi/aliasing.

Kuantisasi
ž  Proses Pemberian harga terhadap sinyal PAM; yang besarnya kecilnya disesuai dengan harga tegangan pembanding terdekat
ž  Setiap pulsa akan diletakan kedalam suatu polaritas positif atau polaritas negatif
ž  Setiap polaritas dibagi menjadi beberapa segment/sub segment(interval)


Companding
Sebelum  dikuantisasi,  amplitudo sinyal kecil diperbesar dan amplitudo sinyal besar diperkecil. Operasi yang dilakukan disebut sebagai kompresi (comp) dan ekspansi (exp), yang disebut dengan companding


 Coding / Pengkodean
  •   Pengkodean adalah proses mengubah (mengkodekan) besaran amplitudo sampling ke bentuk kode digital biner. 
  •   Pemrosesan dilakukan secara elektronik oleh perangkat encoding menjadi 8 bit word PCM yang merepresentasikan level hasil kuantisasi yang sudah  ditentukan yaitu dari  –127 sampai dengan +127 interval kuantisasi.
  •  Bit paling kiri dari word PCM jika = 1 menyatakan level positif dan jika = 0 berarti level negatif.
  •  Pengkodean menghasilkan total 256 beda sampling (256 subsegmen) yang memerlukan 8 bit (28 = 256)
                        

ž  Keterangan :
            M = Mark atau tanda level :      1 = amplitudo positif
                                                               0 = amplitudo negative
            S = Segmen                  000 = segmen 0      002 = segmen 2 
                                                 001 = segmen 1     111 = segmen 7
            A = sub-segmen          0000 = 0                     0001 = 1
                                                0002 = 2                      1111 = 15
Multiplexing
ž  Multiplexing merupakan penggabungan beberapa kanal sinyal informasi ke dalam satu kanal informasi dengan tujuan agar sinyal-sinyal informasi tsb dapat dikirimkan secara simultan dalam 1 kanal.
ž  Beberapa jenis metoda multiplexing, adalah sbb:
            a. FDM (Frequency Division Multiplexing)
            b. TDM (Time Division Multiplexing)
            c. WDM (Wavelength Division Multiplexing)
FDM (Frequency Division Multiplexing)
ž  Teknik penggabungan kanal sinyal informasi dengan menggunakan kanal-kanal frekuensi yang berbeda.
ž  Prinsipnya adalah  n  buah kanal dengan frekuensi yang berbeda-beda ditransmisikan secara simultan pada 1 saluran transmisi.  Teknik ini digunakan untuk sistem analog maupun sistem digital.


TDM (Time Division Multiplexing)
ž  Teknik penggabungan kanal informasi dengan  menggunakan bandwidth frekuensi yang sama, namun secara bergantian.
ž  TDM merupakan proses multiplexing dengan cara membagi waktu menjadi slot-slot waktu yang menyatakan informasi dari tiap kanal. Teknik ini hanya mungkin untuk sinyal digital.
                                    

WDM (Wavelength Division Multiplexing)
ž  Teknik ini serupa dengan FDM, hanya menggunakan domain panjang gelombang sebagai variabelnya. WDM biasa digunakan pada sistem komunikasi serat optik  
                                


Konsep Signaling dalam Telekomunikasi
Signaling secara umum dibagi menjadi 3 tipe:
  Signaling dengan exchange
  Signaling antara subscriber dan exchange
  Signaling antar exchange
Signaling Antara Subscriber dan Exchange:

                                    
                                       

Contoh Signaling antar Exchange menggunakan ISUP Protocol.
                          




Data Communication Environment
                            




                                 


                                    

Pada digital telecommunication menggunakan Common Channel Signaling No. 7 (CCS 7).

Nama Organisasi & kode signal dalam jaringan dan telekomunikasi

IEFT  (Internet Engineering Task Force), merupakan pihak yang mempublikasikan spesifikasi yang membuat standar protokol TCP/IP. Kebijakan protokol qos (Quality of Service) yang diusulkan sebagai standar IETF untuk mengkomunikasikan informasi kebijakan qos dalam jaringan.

ISO (International Organization for Standardization), adalah badan penetap standar internasional yang terdiri dari wakil-wakil dari badan standar nasional setiap negara. Dalam menetapkan suatu standar tersebut mereka mengundang wakil anggotanya dari 130 negara untuk duduk dalam Komite Teknis (TC), Sub Komite (SC) dan Kelompok Kerja (WG). ISO bekerja sama dengan Komisi Elektroteknik Internasional (IEC) yang bertanggung jawab terhadap standardisasi peralatan elektronik.

IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers), adalah organisasi nirlaba internasional, yang merupakan asosiasi profesional utama untuk peningkatan teknologi. IEEE memiliki badan standard (Standard Association, IEEE-SA). IEEE-SA memiliki wibawa cukup besar untuk bisa mempersatukan substandard industri membentuk standardisasi internasional yang diakui seluruh industri.
ANSI (American National Standards Institute), Organisasi sukarela yang terdiri atas anggota dari sektor usaha, pemerintah, dan lain-lain yang mengkoordinasikan aktivitas yang berhubungan dengan standar, dan memperkuat posisi Amerika Serikat dalam organisasi standar nasional. ANSI adalah lembaga amerika yang mengeluarkan standard ASCII (American Standard Code for Information Interchange). Kode ASCII sebenarnya memiliki komposisi bilangan biner sebanyak 8 bit. Dimulai dari 00000000 hingga 11111111. Total kombinasi yang dihasilkan sebanyak 256, dimulai dari kode 0 hingga 255 dalam sistem bilangan Desimal.

ITU (International Telecommunication Union), Sebuah organisasi global yang ada dan didirikan untuk mengatur penggunaan frekuensi radio (RF) diseluruh penjuru dunia. Untuk mempermudah ITU-R membagi beberapa wilayah. Hingga masing-masing wilayah, diatur oleh organisasi yang berbeda.

TIA (Telecommunication Industrial Association), Suatu organisasi terpisah yang diakui oleh ANSI dan bekerjasama dengan Asosiasi Industri Elektronika (EIA). TIA dikenal terbaik untuk mengembangkan standard pemasangan kabel menggunakan disain dan instalasi sistem pemasangan kabel yang ter-koordinasi. Sehingga mampu untuk mendukung suatu cakupan aplikasi yang luas dan memenuhi kebutuhan kecepatan yang tinggi pada masa kini dan mendatang.

FCC (Federal Communication Commission)), adalah organisasi yang bergerak di bidang pertelekomunkasian. Organisasi ini yang mengatur segala jenis komunikasi baik yang keluar ataupun ke dalam negara Amerika Serikat. FCC dan organisasi sejenis bertugas, sekaligus yang berhak untuk membuat berbagai aturan yang menyangkut mengenai apa saja yang boleh, dan tidak boleh dilakukan oleh seorang user dalam hal penggunaan wireless, khususnya yang menyangkut penggunaan Frekuensi Radio (RF) untuk melakukan transmisi.

Didalam metode signaling, terdapat beberapa istilah kode kode yang harus kitda ketahui
Beberapa diantaranya NRZ Method, NRZ-L, Metode Manchester encoding dan 4B/5B code group. Berikut penjelasan saya

Metode NRZ ( non return to zero) Signaling

Yaitu suatu kode dimana tegangan negatif dipakai untuk mewakili suatu
binary (bit -0) dan tegangan positif untuk binary lainnya (bit-1).
NRZ-L (NRZ-Level)

Dua tegangan yang berbeda antara bit 1 dan bit 0

Tegangan konstan selama interval bit

Tidak ada transisi yaitu tegangan no return to zero b.
NRZ-I (NRZ-Inverted)

Pulsa tegangan konstan untuk durasi bit

Transisi = 1

Tidak ada transisi = 0


Kelemahan NRZ-L dan NRZ-I adalah :

1.keterbasan dalam komponen dc.

2.kemampuan sinkronisasi yang buruk.
Metode Manchester Encoding



yaitu kode dimana ada suatu transisi pada setengah dari periode tiap bit : transisi low ke high mewakili binary ‘1’ dan high ke low mewakili binary ‘0’.
Data biner ditransmisikan melalui kabel tidak dikirim sebagai urutan logika 1 dan 0. Pengkodean Manchester dapat mengkonsumsi sampai kira-kira dua kali bandwidth sinyal asli (20 MHz).


4B/5B Code Group
4B/5B Code Group juga bisa di sebut dengan block koding. Tiap 4-bit dari data yang diterima memiliki extra bit kelima. Bit extra membolehkan 5 bit “symbol” untuk di definisikan bahwa informasi kontrol transmisi untuk user data. Selain itu 4B/5B Coding memberikan kualitas sinyal yang baik dan rata-rata error yang kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar